Pondok Pesantren Modern Al Umanaa Mencetak Kader Pemimpin Qurani

  • Bagikan
pondok pesantren al umanaa sukabumi jawa barat
Pondok Pesantren Modern Al Umanaa Sukabumi, Jawa Barat, menciptakan kader pemimpin masa depan dan intelektual muslim yang berquran.

SULAWESI, INDOtayang.COM–Pondok Pesantren Modern Al Umanaa berlokasi di Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, merupakan pusat pendidikan Islam bertujuan untuk menciptakan kader pemimpin masa depan dan intelektual muslim yang berquran.

Lembaga pendidikan Islam berada di bawah naungan Yayasan Al Umanaa itu menyelenggarakan pendidikan boarding (pesantren), untuk menghasilkan lulusan yang berakidah kokoh kuat, mandiri dan bermanfaat bagi kemaslahatan ummat.

Pondok Pesantren Modern Al Umanaa Sukabumi berdiri sejak tahun 2014. KH Mindjali A.S. adalah pendiri sekaligus pengagas sistem pendidikan Al Umanaa yang berbasis aqidah islamiyah dan akhlakul karimah.

Salah satu lulusan santri Pondok Pesantren Modern Al Umanaa Sukabumi, Fadel Duha Jayadikusumah asal Kuningan, Jawa Barat, memaparkan pengalamannya menimba ilmu selama enam tahun di pesantren itu.

Fadel menempuh pendidikan sejak jenjang menengah pertama (SMP) hingga SMA, dan lulus tahun ajaran 2020/2021. Sekarang dia tengah menempuh masa pengabdian selama satu tahun di almamaternya tersebut.

Berdasarkan penuturan Fadel, para santri yang menempuh pendidikan di kampus Al Umanaa Sukabumi berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Seperti dari Tidore, Kupang, Bau-Bau, Riau, Pontianak, dan daerah Pulau Jawa lainnya.

“Di sini kami bertemu untuk belajar dan menjadi keluarga. Walau kami datang dari lain-lain daerah dan budaya. Tapi tujuan kami satu, yakni belajar,” ungkapnya.

Para santri Pondok Pesantren Modern Al Umanaa Sukabumi, Jawa Barat.

Prinsip kemandirian

Fadel menjelaskan, sepanjang menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Modern Al Umanaa telah menyadarkannya bahwa, untuk meraih keberhasilan menjadi pemimpin di masa depan harus melewati proses yang tak mudah.

Karena itu, kata dia, semua pasti membutuhkan perjuangan. Sehingga dari proses terpaan itu terbukalah pola pikirnya untuk mendewasakan diri, bahwa di sana dia harus bisa menyelesaikan segala urusanya secara mandiri.

“Prinsip kemandirian adalah awal untuk menjadi pemimipin yang baik di masa depan,” ujarnya.

Para santri tengah mengikuti praktik keterampilan membuat makanan nugget.

Hakikat pendidikan

Lebih jauh dia memaparkan, bahwa selama bersekolah di Al Umanaa, dia bukan hanya belajar ilmu pengetahuan saja, akan tetapi juga belajar keterampilan.

Karena menurutnya, bukan sekedar nilai yang tinggi dan otak cerdas yang menjamin sebuah kesuksesan. Namun semua itu harus diiringi dengan keterampilan dan ahlak (karakter).

Selain dari pada itu, pendidikan di Al Umanaa Sukabumi bertujuan untuk mempersiapkan calon pemimpin masa depan, dan bukan mempersiapkan lulusan untuk menjadi karyawan yang siap kerja.

Hal ini berlawanan dengan yang terjadi di Indonesia saat ini, bahwa kebanyakan pendidikan di sekolah hanya mencetak sebuah generasi yang siap menjadi karyawan.

Bukan mendidik dan mepersiapkan sebuah generasi yang siap menjadi pemimpin di masa depan yang soleh dan berhati qurani.

Hal tersebut kata Fadel, bisa terlihat dari beberapa outcome pendidikan di Indonesia ini.

Contohnya, kalau mengutip dari cnbcindonesia.com terbitan 15 November 2019 lalu, terkait berita “RI Krisis Petani” di situ menyebut cangkul impor pula, 99 persen dari China.

“Tentu ini kan aneh, untuk sebuah cangkul saja harus impor dari luar negeri. Padahal banyak perguruan tinggi di negeri ini. Lantas dimanakah mereka para lulusan pendidikan di Indonesia,” ucapnya.

“Maka itu, disinilah saya belajar. Bahwa hahikat sebuah pendidikan adalah mencetak sebuah generasi yang siap menjadi pemimpin yang soleh berhati qurani,” imbuhnya. (Jack/Yan)

  • Bagikan