Kopi Jadi Gaya Hidup Masa Kini dan Potensi Kemajuan Ekonomi

  • Bagikan
komoditas perkebunan dan petani kopi indonesia dan gaya hidup
Dengan mengetahui potensi yang sangat besar di dalam negeri, tentu kopi dapat dijadikan salah satu langkah dalam memajukan ekonomi indonesia/ Ilutrasi Foto: Istimewa

JAKARTA, INDOtayang.COM– Sebagai negara agraris indonesia memiliki kekayaan alam berlimpah yang menunjang kemajuan sektor pertanian, termasuk komoditas perkebunan kopi yang kini menjadi gaya hidup kalangan muda.

Di era kekinian, kopi  sedang populer menjadi gaya hidup anak muda dapat terlihat dari coffee shop  yang bertebaran saat ini.

Kopi bukan lagi menjadi konsumsi oleh satu kalangan saja, sebut saja bapak-bapak, tetapi menjadi daya tarik bagi anak muda zaman sekarang . Terlebih untuk produk tersebut  yang telah memiliki kemasan lebih kekinian.

Dengan mengetahui potensi yang sangat besar di dalam negeri, tentu komoditas ini dapat dijadikan salah satu langkah memajukan ekonomi bangsa.

Tidak hanya petani kopi, banyak aspek lain yang dapat berkontribusi mengembangkannya di Indonesia. Dengan begitu, tanaman ini punya harapan untuk dapat ditingkatkan dalam hal produktivitas.

Luas area tanaman

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi peningkatan luas area tanaman perkebunan kopi rakyat dari tahun 2017 ke 2018. Pada 2017 sebesar 1210,7 ribu hektar.

Sementara 2018 sebesar 121,7. Akan tetapi, di tahun 2019 hingga 2020 terjadi sedikit  penurunan yaitu sebesar 200 hektar.

Selain itu, luas area petani kopi di wilayah Indonesia dari tahun ke tahun semakin menurun. Kemudian dapat kita lihat bahwa kontribusi terbesar terletak pada perkebunan rakyat.

Penurunan dari luas area ini dapat terjadi, salah satunya karena peralihan fungsi lahan untuk sektor lain selain kopi.

Data produksi

Masih data BPS, dari tahun 2016 ke 2017 terjadi peningkatan. Namun data tahun 2018-2020, produksi total kopi dapat terlihat tidak terjadi penurunan ataupun peningkatan yang signifikan.

BPS juga menyebut, bahwa pada 2020 harga produsen kopi kering tertinggi terdapat pada bulan Maret, yakni sebesar Rp 2.111.312/100kg.

Sementara itu, harga produsen kopi terendah terdapat pada bulan Desember, sebesar Rp 1.984.090/100 kg. Rata-rata pada tahun 2020, harga produsen kopi sebesar Rp2.040.353 / 100 kg

selain itu, menurut BPS, bahwa jumlah ekspor komoditas perkebunan ini dapat dikatakan tidak stabil. Pada 2016 sebesar 412370,3 ton, kemudian terjadi penurunan yang signifikan di tahun 2018 yaitu sebesar 277411,2 ton.

Lalu terjadi peningkatan di tahun 2019 dan 2020. Pada 2020, jumlah ekspor sebesar 375555,9 ton.

Tantangan ke Depan

Tentu komoditas hasil perkebunan itu di masa sekarang telah menjadi kebutuhan konsumsi serta gaya hidup banyak orang. Tidak hanya untuk konsumsi, kopi juga banyak yang mengolah sebagai produk kecantikan.

Dengan meningkatnya konsumsi, tentu menjadi peluang ekonomi bagi pemerintah dan masyarakat sendiri untuk melakukan peningkatan produktivitas pertanian itu.

Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya melakukan penyuluhan kepada petani untuk mendapatkan ilmu yang baik dalam membudidayakan tanaman itu.

Selain itu, pemilihan bibit dan benih menjadi hal penting dan wajib tau dalam meningkatkan produksi.

Pemerintah juga sebaiknya mulai melakukan peningkatan ekspor komoditas itu. Tidak hanya itu, Pemerintah  perlu melakukan promosi kepada investor tentang prospek hasil pertanian ini di masa depan yang akan terus berkembang, dari aspek pertumbuhan konsumsi yang terus meningkat.

Sehingga ini bisa menjadi ladang usaha untuk perusahaan besar melakukan penanaman kopi.

Tentu hal ini akan berdampak pada peningkatan lapangan kerja bagi masyarakat. Dengan begitu, kopi dapat menjadi salah satu aspek untuk meningkatkan perekonomian bangsa (Yan).

Sumber : Yoursay.id

  • Bagikan