Kenapa Harga Minyak Goreng Mahal, Padahal RI Produsen Terbesar CPO

  • Bagikan
minyak goreng
Kementerian Perdagangan berupaya menjaga pasokan dan harga minyak goreng  dalam negeri tetap bisa terjangkau/Foto: Istimewa

JAKARTA, INDOtayang.COM — Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan menegaskan, pihaknya berupaya menjaga pasokan dan harga minyak goreng  dalam negeri tetap bisa terjangkau.

Kemendag meminta asosiasi dan produsen minyak goreng sawit untuk tetap memproduksi minyak goreng curah dan minyak goreng kemasan sederhana minimal hingga menjelang hari besar keagamaan nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru 2022.

Kemendag meminta baik asosiasi maupun produsen minyak goreng sawit untuk tetap memproduksi minyak goreng curah dan minyak goreng kemasan sederhana untuk menjaga pasokan di dalam negeri dengan harga terjangkau minimal hingga menjelang Natal dan Tahun Baru 2022.

Selanjutnya, Kemendag juga terus memantau pendistribusiannya dengan menggandeng asosiasi ritel modern agar minyak goreng kemasan sederhana seluruh lapisan masyarakat.

Terus memantau pasar

Berdasarkan pantauan Kementerian Perdagangan, harga minyak goreng rata-rata nasional saat ini untuk minyak goreng curah Rp 16.100 per liter.

Minyak goreng kemasan sederhana Rp 16.200 per liter, dan minyak goreng kemasan premium Rp 17 ribu per liter.

Oke Nurwan mengatakan, kenaikan harga minyak goreng lebih dikarenakan harga internasional yang naik cukup tajam.

“Sebab, pasokan minyak goreng di masyarakat saat ini aman,” ungkapnya, di Jakarta, Jumat (5/11/2021).

Dia menyebut, kebutuhan minyak goreng nasional sebesar 5,06 juta ton per tahun, sedangkan produksinya bisa mencapai 8,02 juta ton.

Meskipun Indonesia adalah produsen crude palm oil (CPO) terbesar, namun kondisi lapangan menunjukkan sebagian besar produsen minyak goreng tidak terintegrasi dengan produsen CPO.

Menurutnya, dengan entitas bisnis yang berbeda, tentunya para produsen minyak goreng dalam negeri harus membeli CPO sesuai dengan harga pasar lelang dalam negeri.

Yaitu harga lelang KPBN Dumai yang juga terkorelasi dengan harga pasar internasional. Akibatnya, apabila terjadi kenaikan harga CPO internasional, maka harga CPO di dalam negeri juga turut menyesuaikan harga internasional.

Selain itu, sambung dia, dari dalam negeri kenaikan harga minyak goreng turut dipicu turunnya panen sawit pada semester kedua.

Sehingga, suplai CPO menjadi terbatas dan menyebabkan gangguan pada rantai distribusi (supply chain) industri minyak goreng.

Serta adanya kenaikan permintaan CPO untuk pemenuhan industri biodiesel seiring dengan penerapan kebijakan B 30.

Tren kenaikan harga CPO

Penyebab lain, kata Oke, juga karena turunnya pasokan minyak sawit dunia seiring dengan turunnya produksi sawit malaysia sebagai salah satu penghasil terbesar sawit.

Selain itu rendahnya stok minyak nabati lainnya seperti adanya krisis energi uni eropa tiongkok dan india yang menyebabkan negara-negara tersebut melakukan peralihan ke minyak nabati.

“Faktor lainnya, yaitu gangguan logistik selama pandemi Covid-19, seperti berkurangnya jumlah kontainer dan kapal,” imbuhnya. (Yan)

Sumber : Tempo.co

  • Bagikan